Selasa, 29 November 2011

Macam-macam Bentuk Sediaan Obat hai teman teman! guru saya yaitu Bu Evy, yang mengajar farmakologi memberikan THR sebelum lebaran, yaitu menghapal bentuk sediaan obat. Jadi ketika mudik saya selalu menyelipkan kertas hapalan ini ditas saya, dan selalu dibawa kemanapun saya pergi :D dan Alhamdulillah hasilnya pun memuaskan :) Berikut Bentuk Sediaan Obat : Kapsul adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsul, keras dan lunak. Cangkang kapsul dibuat dari Gelatin dengan atau tambahan zat lain. Erosol adalah sediaan yang mengandung satu atau lebih zat berkhasiat dalam wadah diberi tekanan, berisi propelan atau campuran propelan yang cukup untuk memancarkan isinya hingga habis. Serbuk adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan. Kolutorium adalah larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran, antiseptika, analgetika local atau astringen. Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempacetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permokaan rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih, dengan atau tanpa zat tambahan. Krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi, mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Eliksir adalah sediaan berupa larutan, yang mempunyai rasa dan bau sedap, mengandung selain obat, juga zat tambahan seperti gula atau zat pemanis lainnnya, zat warna, zat pewangi, dan zat pengawet, digunakan sebagai obat dalam. Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cairdibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani, menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung. Guttae optalmica/tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspense, digunakan untuk mata, dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. Gargarisma adalah sediaan berupa larutan, umumnya dalam pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. Digunakan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. Imunoserum adalah sediaan cair atau kering beku, mengandung immunoglobulin khas yang diperoleh secara pemurnian serum hewan yang telah dikebalkan. Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat selama 15 menit. Inhalasi adalah sediaan yang dimaksudkan untuk disedot melalui hidung atau mulut, atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan. Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, amulsi atau suspensiatau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa,kecuali dinyatakan lain. Ovula adalah sediaan padat yang digunakan melalui vagina, umumnya berbentuk telur, dapat melarut melunak dan meleleh pada suhu tubuh. Pasta adalah sediaan berupa massa lembek yang dimaksudkan untuk pemakaian luar, kandungan zat padatnya lebih tinggi dari pada krim. Supossitoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo, dapat melarut, melunak atau meleleh pada suhu tubuh. Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Tingtur adalah sediaan cair yang dibuat secara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing masing monografi. Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Tablet hisap adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma manis, yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dari mulut. Collyrium adalah sediaan berupa larutan steril, jernih bebas zarah asing, isotonus, digunakan untuk membersihkan mata. Collunarium adalah larutan yang dimaksudkan untuk digunakan pada hidung. Gel adalah sediaan bermasa lembek , berupa suspensi, yang dibuat dari zarah kecil senyawa organic atau makromolekul senyawa organic, masing-masing terbungkus dan saling terserap oleh cairan. Plester adalah sediaan semi padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditunjukan untuk pemakaian topical. Implan adalah sediaan dengan padat steril berukuran kecil berisi obat dengan kemurnian tinggi dibuat dengan cara pengempaan atau percetakan. Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh. Larutan otic adalah sediaan yang diberika pada telinga, sediaan otic lainnya berupa formulasi seperti suspense obat salep untuk pembersih secara topical pada telinga. Spirit adalah larutan yang mengandung etanol/hidro alcoholdari zat yang mudah menguap. Larutan ophtalmica adalah sediaan cair yang digunakan untuk mata. Scribd Upload a Document Search Documents Explore Documents • Books - Fiction • Books - Non-fiction • Health & Medicine • Brochures/Catalogs • Government Docs • How-To Guides/Manuals • Magazines/Newspapers • Recipes/Menus • School Work • + all categories • • Featured • Recent People • Authors • Students • Researchers • Publishers • Government & Nonprofits • Businesses • Musicians • Artists & Designers • Teachers • + all categories • • Most Followed • Popular • Yulisa Gustini Inte... We're using Facebook to personalize your experience. Learn More•Disable o Home o My Documents o My Collections o My Shelf o View Public Profile o Messages o Notifications o Settings o Help o Log Out / 11 Download this Document for Free 1 I. TUJUAN Untuk memberikan panduan tata cara pembuatan sediaan tetes telinga dan mengetahui areakerja pembuatan. II. FORMULATION 1. Formula Standar Tiap 100 ml mengandung :R/ Acidum Aceticum. 0,1 gGliserin ad 10 g (6)Formulasi ModifikasiTiap 10 ml mengandung :R/ Acidum Aceticum 0,1 gGlycerolum 1 gAethanolum ad 10 ml III. TANGGUNG JAWAB 1. ………..yang bertanggung jawab atas pelaksanaan prosedur tetap ini. 2. …………. selaku supervisor dalam pelaksanaan prosedur tetap ini. PRODI FARMASIUNIVERSITASISLAM INDONESIAYOGYAKARTA PROSEDUR TETAPPEMBUATAN SEDIAAN TETES TELINGA Departemen : Quality Control Seksi : Laboratorium Halaman : 1 dari 11Tanggal pembuatan :6 September 2009Disusun oleh : Kel B 12Tanggal : 1 okt 10Nama Praktikan:Diperiksa oleh :Tanggal :Nama Asistant. Rindang Diah Disetujui oleh :Tanggal :Nama Laborant.HartantoTanggal revisi: 2 IV. DEFINISI Tetes telinga adalah obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskanobat ke dalam telinga. Kecuali dinyatakan lain, tetes telinga dibuat menggunakan cairanpembawa bukan air (3).Larutan otic atau tetes telinga adalah larutan yang mengandung air atau gliserin ataupelarut lain dan bahan pendispersi, untuk penggunaan telinga luar (4).Tetes telinga adalah obat tetes yang digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalamtelinga. Bila tidak dinyatakan lain pembawa yang digunakan adalah bukan air. Cairanpembawa yang digunakan harus mempunyai kekentalan yang sesuai agar obat mudahmenempel pada dinding telinga, biasanya digunakan gliserin dan propilen glikol. Selaintersebut dapat pula digunakan etanol, heksilenglikol dan minyak lemak nabati. Bila sediaanberupa suspense sebagai zat pensuspensi digunakan sorbitan, polisorbat atau surfaktan lainyang cocok. Kecuali dinyatakan lain pH tetes telinga adalah 5,0-6,0 dan disimpan dalamwadah tertutup rapat (2).Preparat telinga kadang-kadang dikenal sebagai preparat otic atau aural. Bentuk larutanpaling sering digunakan pada telinga, suspense dan salep masih jga didapati dalampenggunaannya. Preparat telinga biasanya diteteskan atau dimasukkan dalam jumlah kecil kedalam saluran telinga untuk melepaskan kotoran telinga (lilin telinga) atau untuk mengobatiinfeksi, peradangan atau rasa sakit. Tata cara dalam membuang lilin/kotoran telinga biasanyadimulai dengan menempatkan larutan otic pada saluran telinga dengan posisi kepala pasienmiring 45 0 , lalu mamasukkan gumpalan kapas untuk menahan obat dalam telinga selama 15-30 menit, disusul dengan menyemprot saluran telinga dengan air hangat perlahan-lahanmemakai penyemprot telinga dari karet yang lunak (1). PRODI FARMASIUNIVERSITASISLAM INDONESIAYOGYAKARTA PROSEDUR TETAPPEMBUATAN SEDIAAN TETES TELINGA Departemen : Quality Control Seksi : Laboratorium Halaman : 2 dari 11Tanggal pembuatan :6 September 2009Disusun oleh : Kel B 12Tanggal : 1 okt 10Nama Praktikan:Diperiksa oleh :Tanggal :Nama Asistant. Rindang Diah Disetujui oleh :Tanggal :Nama Laborant.HartantoTanggal revisi: 3 Proses sterilisasi termal menggunakan uap jenuh di bawah tekanan berlangsung dalamsuatu bejana disebut autoklaf. Suatu siklus autoklaf yang ditetapkan dalam farmakope untuk media atau pereaksi adalah selama 15 menit, 121 0 C, kecuali dinyatakan lain. Prinsip dasar kerja alat ini adalah udara di dalam bejana diganti uap jenuh, dan hal ini dicapai denganmenggunakan alat pembuka atau penutup khusus. Sediaan yang akan disterilkan diisikan kedalam wadah yang cocok, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebihdari 100 mL, sterilisasi dilakukan dengan uap air jenuh pada suhu 115 0 -116 0 C selama 15menit. Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 100 mL, waktu sterilisasi diperpanjanghingga seluruh isi tiap wadah berada pada 115 0 -116 0 C selama 30 menit. Monografi Bahan:a. Acidum Aceticum Sinonim : Asam asetat Struktur : CH 3 COOH Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; bau menusuk; rasa asam, tajam. Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P dan dengan gliserol P. Fungsi : Pemberi suasana asam, agar bakteri sukar tumbuh (3). B. GliserinRumus molekul : CH 2 OH.CHOH.CH 2 OH Sinonim : Gliserol Pemberian bahan : Cairan jernih seperti sirup, tidak berbau, tidak berwarna, rasa manis, hanyaboleh berbau khas lemah (tajam atau tidak enak). Higroskopis, netral terhadap lakmus. Data kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol, tidak larut dalam kloroform,dalam eterk dalam minyak lemak dan dalam minyak menguap. Penyimpanan : Wadah dan penyimpanan dalam wadah tertutup rapat Fungsi : Untuk meningkatkan kelarutan dan memiliki viskositas yang baik untuk sediaan tetestelinga sehingga memperlama interaksi sediaan obat dengan telinga (3) PRODI FARMASIUNIVERSITASISLAM INDONESIAYOGYAKARTA PROSEDUR TETAPPEMBUATAN SEDIAAN TETES TELINGA Departemen : Quality Control Seksi : Laboratorium Halaman : 3 dari 11Tanggal pembuatan :6 September 2009Disusun oleh : Kel B 12Tanggal : 1 okt 10Nama Praktikan:Diperiksa oleh :Tanggal :Nama Asistant. Rindang Diah Disetujui oleh :Tanggal :Nama Laborant.HartantoTanggal revisi: 4 C. EtanolSinonim : Aethanoleum Struktur : C 2 H 6 O Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas,rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap. Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P Fungsi : Zat tambahan (3). V. PELAKSANAANMetode : Sterilisasi dengan autoklaf Bahan dan Alat Bahan : Acidum Aceticum, glycerolum, Aethanolum.Alat : sendok/spatel logam, pinset, pipet tetes, batang pengaduk, kaca arloji, gelaspiala, corong, erlenmeyer, gelas ukur, vial dan kertas saring. Prosedur Kerja 1. Sterilisasi alat:  Alat yang disterilisasi menggunakan autoklaf 121 0 C selama 15 menit adalah: pipet tetes,batang pengaduk, vial, gelas beker, erlenmeyer dan gelas ukur. PRODI FARMASIUNIVERSITASISLAM INDONESIAYOGYAKARTA PROSEDUR TETAPPEMBUATAN SEDIAAN TETES TELINGA Departemen : Quality Control Seksi : Laboratorium Halaman : 4 dari 11Tanggal pembuatan :6 September 2009Disusun oleh : Kel B 12Tanggal : 1 okt 10Nama Praktikan:Diperiksa oleh :Tanggal :Nama Asistant. Rindang Diah Disetujui oleh :Tanggal :Nama Laborant.HartantoTanggal revisi: 5  Alat yang disterilisasi menggunakan oven 150 o C selama 1 jam adalah : pinset,sendok/spatel logam, kaca arloji, dan corong.2. Penimbangan bahan formulasi:Tiap sediaan tetes telinga Asam Asetat mengandung. Acidum Aceticum (1 % x 10 ml ) = 0,1 gGlycerolum 1 gAethanolum ad 10 ml3. Pembuatan sediaan tetes telinga:Sterilisasi semua alat yang akan digunakanTimbang semua bahan yang dibutuhkanAcidum Aceticum dilarutkan dalam glycerolumTambahkan dengan aethanolum ad 10 mlSterilisasi dengan autoklaf 4. Evaluasi :1) Evaluasi Kimia PRODI FARMASIUNIVERSITASISLAM INDONESIAYOGYAKARTA PROSEDUR TETAPPEMBUATAN SEDIAAN TETES TELINGA Departemen : Quality Control Seksi : Laboratorium Halaman : 5 dari 11Tanggal pembuatan :6 September 2009Disusun oleh : Kel B 12Tanggal : 1 okt 10Nama Praktikan:Diperiksa oleh :Tanggal :Nama Asistant. Rindang Diah Disetujui oleh :Tanggal :Nama Laborant.HartantoTanggal revisi: Info Obat Sediaan Tetes Telinga ________________________________________ Pada edisi yang lalu sedikit telah kita bahas mengenai sediaan tetes mata. Pada edisi kali ini kita beralih membahas sediaan tetes lainya, yakni sediaan tetes telinga. Secara anatomis, telinga terbagi menjadi 3 bagian, bagian luar, tengah dan dalam. Telinga luar terdiri dari pinna atau aurikula, yaitu daun kartilago yang menangkap gelombang bunyi dan menjalurkannya ke kanal auditori eksternal (meatus), suatu lintasan sempit yang panjangnya sekitar 2,5 cm merentang dari aurikula sampai membran timpani. Membran timpani (gendang telinga) adalah pembatas telinga tengah. Membran timpani berbentuk kerucut, permukaan eksternalnya dilapisi kulit dan permukaan internalnya dilapisi membran mukosa; membran ini memisahkan telinga luar dan telinga tengah, memiliki tegangan, ukuran, dan ketebalan yang sesuai untuk menggetarkan gelombang bunyi secara mekanis. Telinga tengah terletak di rongga berisi udara dalam bagian petrosus tulang temporal. Tuba eustachius (auditori) menghubungkan telinga tengah dengan faring. Tuba yang biasanya tertutup dapat terbuka saat menguap, menelan, atau mengunyah. Saluran ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membran timpani. Obat tetes telinga terkadang dinamakan sebagai sediaan aural atau sediaan otik. Sediaan ini biasanya ditempatkan pada kanal telinga untuk menghilangkan serumen telinga atau untuk pengobatan infeksi, inflamasi, atau nyeri telinga. Karena telinga terluar ditutup oleh struktur kulit dan berperilaku seperti kondisi kulit lain seperti halnya permukaan tubuh, maka umumnya pengobatannya menggunakan sediaan dermatologi. Salah satu kondisi patofisiologi pada telinga adalah infeksi telinga otitis akut (swimmers ear), yakni suatu kondisi inflamasi dari kanal eksternal telinga, umumnya disebabkan oleh trauma lokal (akibat cara membersihkan telinga dengan menggunakan alat runcing dan tajam), tetapi bisa juga disebabkan oleh hal-hal lain. Manifestasi tahap preinflamasi dari otitis eksternal, seperti kelainan kulit, disertai dengan perasaan gatal pada kanal eksternal dan penumpukan unit apopilo sebaseus. Diduga hal ini akibat kehilangan lipid pada kanal auditor eksternal sehingga terjadi peningkatan kandungan air stratum korneum yang menyebabkan edema intraseluler. Tahap inflamasi akut disebabkan oleh trauma yang menginduksi radang sehingga bakteri mendapatkan akses menuju dermis. Otomikosis adalah hasil infeksi jamur pada permukaan kanal eksternal telinga. Hal ini sering merupakan infeksi ikutan bakteri atau akibat keberadaan serumen basah (moist). Otitis media supuratif kronik adalah kondisi inflamasi dari telinga tengah. Selain itu, mungkin pula terjadi pengerasan (granulations) jaringan, fibriosis dan osteoneogenesis. Umumnya organisme penyebab otitis akut eksternal ini adalah Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. Penyebab inflamasi kronik adalah Proteus spesies, Aspergillus niger, dan Candida albicans adalah penyebab otomikosis. Selain itu mungkin juga terdapat Mucormycosis dan Actiomyces, sedangkan penyebab otitis media supuriatif kronik adalah Paeruginosa dan S aureus. Sediaan telinga meliputi : Larutan untuk menghilangkan serumen Serumen adalah kombinasi sekresi keringat dari kelenjar sebaseous dan kanal eksternal auditori. Sekresi ini jika mengering akan membentuk masa semisolida lengket dan dapat mengikat sel epitelial, rambut rontok, debu dan benda asing lainnya yang masuk kedalam liang telinga. Akumulasi serumen secara berlebihan dalam telinga dapat menyebabkan rasa gatal, nyeri, dan mengganggu pendengaran; jika tidak dikeluarkan secara periodik, maka serumen dapat mengeras dan menghilangkannya akan lebih sulit serta menimbulkan rasa sakit. Untuk melunakkan serumen yang sudah memadat digunakan minyak mineral ringan, minyak nabati, dan hidrogen peroksida. Saat ini digunakan larutan surfaktan sintetik. Salah satu dari agen ini adalah kondensat trietanol amin polipeptida oleat, yang secara komersial diformulasi dengan pembawa propilen glikol, digunakan untuk emulsifikasi serumen untuk mempermudah pengeluarannya. Sediaan lainnya adalah karbamida peroksida ( 6,5%) dalam campuran gliserin, propilen glikol, dan asam sitrat. Pada saat berkontak dengan serumen, karbamida peroksida melepas oksigen yang merusak integritas dari wax serumen yang memadat, sehingga mudah dihilangkan.. Sediaan antiseptik Agen antiseptik sering digunakan untuk pengobatan penyakit kanal eksternal telinga. Beberapa antiseptik biasa digunakan untuk profilaksis pembedahan telinga. Sediaan antiseptik otologi dipasarkan hanya sebagai larutan asam asetat (cuka). Sediaan asam asetat (biasanya larutan 2-5%) menunjukkan aktivitas antibakteri dan antijamur. Sangat bermanfaat untuk P. Aeruginosa, Staphilooccus, B-hemolitic streptococci, Candida spesies, dan Aspergillus. Tidak ada mikroorganisme yang resisten terhadap sediaan ini. Larutan asam asetat pada telinga luar biasanya dapat ditoleransi dan nonsensitisasi, hanya instalasi ke dalam jaringan telinga tengah dapat menimbulkan rasa nyeri. Larutan asam asetat dapat dikombinasi dengan alumunium asetat atau senyawa steroid karena bersifat antiinflamasi dan antipruritik. Ada kecenderungan larutan asam asetat menginduksi lapisan keratin yang akan meningkatkan jaringan mati dalam liang selnya. Hal ini akan mempengaruhi infeksi dan memperlambat proses penyembuhan. Antiseptik umum, seperti povidon iodin, klorheksidin glukonat, dan heksakhlorofen dapat digunakan ototopikal untuk profilaksis pembedahan. Paling umum digunakan adalah povidon jodium karena spektrum aktivitasnya lebar terhadap mikroflora, mikrozoa, dan virus. Selama profilaksis pembedahan, antiseptik harus dicegah jangan sampai memasuki telinga tengah karena akan menghambat migrasi fibrolast selama proses penyembuhan. Sediaan antijamur Kebanyakan infeksi otomikotik adalah konsekuensi dari pengobatan dengan antibiotika. Dengan cara pembersihan kanal eksternal telinga dan menghentikan pengobatan (dengan antibiotika), biasanya cukup untuk menghilangkan infeksi. Tetes antimikroba Sebagai satu kelompok, obat tetes antimikroba otik paling banyak diminta dokter melalui resep. Kebanyakan sediaan ini mengandung campuran antibiotika yang dikombinasikan dengan agen steroid. Untuk aktivitas bakterisid dapat ditambahkan asam asetat atau suatu alkohol. Beberapa dari sediaan ini mengandung asam asetat sebagai agen antibakteri utama. Kebanyakan formulasi untuk sediaan ini mempunyai pH rendah antara 3-5, sama dengan kanal esternal telinga normal. Sediaan Serbuk Sediaan serbuk sudah digunakan sejak lama dalam pengoatan otologi. Pada awalnya digunakan dalam bentuk serbuk tabur untuk pengobatan otitis kronis, terutamanya berguna untuk rongga mastoid. Berbeda dengan sediaan otik lainnya, serbuk tidak bisa menyebabkan nyeri pada waktu pemberian. Untuk instilasi (pemasukan) obat serbuk dapat digunakan suatu alat 'in sulfator' ke dalam kanal eksternal telinga atau rongga mastoid. Sediaan antibiotika yang sesuai untuk alat insulfator antara lain, kloramfenikol-sulfanilamid-fungizone, kloramfenikol-sulfanilamida-fungizone-hidrokortison. Sediaan Anestetika Agen anestetika digunakan untuk menghilangkan nyeri terkait dengan infeksi, seperti otitis eksternal, otitis media, dan miringitis gelembung (bullous). Dapat pula digunakan secara lokal sebelum operasi, pada umumnya selama miringotomi pada pasien dengan membran timpanik tidak rusak atau utuh. Kebanyakan sediaan anestetik mengandung benzokain karena benzokain diabsorbsi buruk melalui kulit sehingga terlokalisasi untuk waktu lama, hanya saja efektivitasnya sulit diramalkan. Benzokain diketahui pula menjadi penyebab reaksi hipersensitivitas. Sediaan lain Propilenglikol adalah pembawa yang baik untuk beracam obat tetes antibiotika, menunjukkan efek dehidrasi terhadap jamur, dan meningkatkan efektivitas pengobatan antijamur lainnya. Kadang-kadang menimbulkan kontak dermatitis pada saat penggunaan pada pasien. Kortikosteroid kadang-kadang ditambahkan pada bermacam obat tetes kombinasi ototopikal untuk mengurangi inflamasi dan gatal-gatal berkaitan dengan infeksi telinga akut. Kortikosteroid dapat pula digunakan untuk pengobatan pertama dermatosis pada kanal eksternal telinga, terutama psoriasis dan dermatitis seboreika. Pembuatan sediaan otik ini didasarkan pada pembuatan sediaan steril sehingga cara sterilisasi dan teknik aseptik yang digunakan sama dengan cara sterilisasi dan teknik aseptik untuk preparasi obat steril, seperti injeksi. Wallahu a`lam.(Farida Yanurti DK, S. Farm, Apt) Pustaka : Agoes, Goeswin. 2009. Sediaan Farmasi Steril. Penerbit ITB, Bandung. Anief, Moh. 2000. Farmasetika. Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Definisi tetes telinga - FI III : 10 Guttae Auriculares, tetes telinga adalah obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat ke dalam telinga. Kecuali dinyatakan lain, tetes telinga dibuat menggunakan cairan pembawa bukan air. - Ansel : 567 Tetes telinga adalah bentuk larutan, suspensi atau salep yang digunakan pada telinga dengan cara diteteskan atau dimasukkan dalam jumlah kecil ke dalam saluran telinga untuk melepaskan kotoran telinga (lilin telinga) atau untuk mengobati infeksi, peradangan atau rasa sakit. - DOM King : 153 Tetes telinga adalah bahan obat yang dimasukkan ke dalam saluran telinga, yang dimaksudkan untuk efek lokal, dimana bahan – bahan obat tersebut dapat berupa anestetik lokal, peroksida, bahan – bahan antibakteri dan fungisida, yang berbentuk larutan, digunakan untuk membersihkan, menghangatkan, atau mengeringkan telinga bagian luar. - http://en.wikipedia.org/wiki/Ear_drop Tetes telinga adalah bentuk dari obat yang digunakan untuk mengobati dan mencegah infeksi telinga, khususnya infeksi pada telinga bagian luar dan saluran telinga (otitis eksterna). Anatomi dan Fisiologi telinga (DOM King : 153) Telinga manusia terdiri dari 3 bagian : telinga luar, tengah, dan dalam. Telinga bagian luar, tengah dan koklea pada telinga bagian dalam merupakan alat –alat pendengaran, sedangkan saluran semisirkularis dan bagian-bagian lain pada telinga dalam mengontrol keseimbangan. Telinga luar terdiri dari daun telinga dan saluran pendengaran luar; suara masuk ke dalam saluran hingga sampai ke gendang telinga. Saluran pendengaran merupakan rongga pada tubuh manusia yang hanya dilapisi dengan jaringan epidermis (kulit). Saluran eksternal mempunyai panjang kira-kira 2,6 cm, dan pembengkakan pada saluran telinga ini akan terasa sangat menyakitkan karena tidak ada jaringan sub kutan untuk mengurangi tekanan dan peregangan kulit. Infeksi telinga bagian luar (otitis eksterna) biasanya meliputi sakit ketika menarik atau memindahkan cuping telinga, dan mungkin pula terjadi pengaliran lilin telinga. Kadang – kadang diperlukan untuk memindahkan kotoran dan lilin telinga (serumen) dengan membasuh saluran telinga dan kemudian menambahkan larutan asam (asam asetat atau aluminium asetat yang diencerkan) untuk menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri. Telinga tengah terdiri dari gendang telinga dan rongga timpani. Lubang timpani adalah kantung yang berisi udara yang mengandung tulang – tulang pendengaran, yaitu maleus, inkus, dan stapes. Rongga ini dihubungkan ke faring melalui saluran eustachius yang berfungsi menjaga tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga agar tetap berada dalam kesetimbangan. Infeksi telinga tengah biasanya bersamaan dengan infeksi pada bagian nasofaring melalui saluran eustachius. Pembengkakan pada telinga tengah disebut sebagai otitis media. Telinga bagian dalam atau labirin merupakan rangkaian kompleks dari saluran – saluran yang berisi cairan yang dalam sebagian besar berperan mengontrol keseimbangan seseorang. Serumen (DOM King : 153-154) Serumen (lilin telinga) adalah campuran dari sekret kelenjar sebaseus dan serumen. Kelenjar ini terletak pada 1 cm bagian luar pada saluran telinga. Lilin telinga terdiri dari lipid, asam – asam lemak, mukoprotein, alcohol lilin, dan bahan – bahan lipofilik lainnya. Serumen berfungsi sebagai lubrikan dan perlindungan dan menyingkirkan debu, dan benda – benda asing lainnya yang masuk ke dalam saluran eksternal. Normalnya, serumen itu kering dan keluar dari telinga, tetapi serumen dapat terakumulasi menjadi bentuk yang kompak dan kemungkinan dapat menutup saluran telinga. Infeksi telinga luar (DOM Martin : 909) Infeksi telinga luar dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain kelembaban yang cukup tinggi, adanya sel – sel epithelium, dan kondisi pH yang alkali yang menyediakan kondisi yang ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme pada rongga yang hangat ini. Beberapa flora yang terdapat pada telinga luar adalah Micrococci (aureus dan ulbus) dan Corynebacteria. Kurang dari 1 % dari telinga normal mengandung Pseudomonas aeruginosa. Ketika sel epitel mengalami luka, infeksi dapat timbul, terutama sekali ketika telinga berada dalam kondisi yang lembab. Infeksi telinga luar (otitis eksternal) dapat diobati dengan kortikosteroid (suspensi atau larutan) dalam propilen glikol dan polietilen glikol. Penggunaan bahan ini juga kadang bersamaan dengan antibiotik yang selektif berdasarkan aktivitasnya melawan Pseudomonas aeruginosa. Infeksi telinga tengah (DOM Martin : 910) Pembengkakan pada telinga tengah biasanya bersamaan dengan pembengkakan rongga hidung yang terhubung melalui saluran eustachius. Infeksi ini biasanya sangat sakit dan diikuti dengan kehilangan pendengaran secara parsial dan demam. Penggunaan antibiotik membawa perubahan yang sangat luar biasa dalam pengobatan otitis media. Bakteri yang dapat menyebabkan infeksi ini antara lain Proteus dan Pseudomonas. Preparat untuk melepaskan kotoran telinga (Ansel : 567) Kotoran telinga adalah campuran sekresi kelenjar keringat dan kelenjar sebasea dari saluran telinga bagian luar. Tumpukan kotoran telinga yang berlebihan dalam telinga dapat menimbulkan gatal, rasa sakit, gangguan pendengaran dan merupakan penghalang bagi pemeriksaan secara otologik. Telah bertahun-tahun minyak mineral encer, minyak nabati, dan hydrogen peroksida biasan digunakan untuk melunakkan kotoran telinga yang terjepit agar dapat dikeluarkan. Baru-baru ini, larutan surfaktan sintetik dikembangkan untuk aktivitas cerumenolitik dalam melepaskan lilin telinga. Salah satu bahan ini, kondensat dari trietanolamin polipeptida oleat, dalam perdagangan diformulasikan dalam propilen glikol, yang digunakan sebagai pengemulsi kotoran telinga sehingga membantu pengeluarannya. Tata cara dalam membuang lilin atau kotoran telinga biasanya dimulai dengan menempatkan larutan otik pada saluran telinga dengan posisi kepala pasien miring 45o, lalu memasukkan gumpalan kapas untuk menahan obat dalam telinga selama 15 – 30 menit, disusul dengan menyemprot saluran telinga dengan air hangat perlahan-lahan memakai penyemprot telinga dari karet yang lunak. Preparat telinga untuk antiinfeksi, antiradang, dan analgetik (Ansel : 568) Obat-obat yang digunakan pada permukaan bagian luar telinga untuk melawan infeksi adalah zat – zat seperti kloramfenikol, kolistin sulfat, neomisin, polimiksin B sulfat dan nistatin. Pada umumnya zat – zat ini diformulasikan ke dalam bentuk tetes telinga (larutan atau suspensi) dalam gliserin anhidrida atau propilen glikol. Pembawa yang kental ini memungkinkan kontak antara obat dengan jaringan telinga yang lebih lama. Selain itu karena sifat higroskopisnya, memungkinkan menarik kelembaban dari jaringan telinga sehingga mengurangi peradangan dan membuang lembab yang tersedia untuk proses kehidupan mikroorganisme yang ada. Untuk membantu mengurangi rasa sakit yang sering menyertai infeksi telinga, beberapa preparat otik antiinfeksi juga mengandung bahan analgetika seperti antipirin dan anestetika local seperti lidokain dan benzokain. pH optimum untuk larutan berair yang digunakan pada telinga utamanya adalah dalam pH asam. Fabricant dan Perlstein menemukan range pH antara 5 – 7,8. keefektifan obat telinga sering bergantung pada pH-nya. Larutan alkali biasanya tidak diinginkan karena tidak fisiologis dan menyediakan media yang subur untuk penggandaan infeksi. Ketika pH telinga berubah dari asam menjadi alkali, bakteri dan fungi akan tumbuh lebih cepat. Sering perbedaan dalam keefektifan antara dua obat yang sama itu adalah karena kenyataan bahwa yang satu asam sedangkan yang lainnya basa (Scoville’s : 257) Larutan untuk telinga biasanya memakai wadah botol drop dan harus jernih atau dalam bentuk suspensi yang seragam (Scoville’s : 257) Cara penggunaan tetes telinga yang benar (Eardrops.pdf) (Menyuruh orang lain untuk membantumu menggunakan tetes telinga ini akan membuat prosedur menjadi lebih mudah) 1. Bersihkan telingamu dengan kapas wajah yang basah kemudian keringkan telingamu. 2. Cuci tanganmu dengan sabun dan air 3. Hangatkan tetes telinga mendekati suhu tubuh dengan cara memegang wadahnya dalam tanganmu selama beberapa menit 4. Jika tetes telinga merupakan suspensi yang berkabut, kocok botol dengan baik selama 10 detik 5. Periksa ujung penetes untuk meyakinkan bahwa tidak pecah atau retak 6. Tarik obat ke dalam penetes 7. Miringkan telinga yang terinfeksi ke atas atau ke samping 8. Hindari menyentuh ujung penetes pada telinga atau apapun, tetes telinga dan penetesnya harus tetap terjaga bersih 9. Teteskan sejumlah yang benar ke telinga. Kemudian tarik penetesnya dari telinga agar tetesannya dapat turun ke saluran telinga.l 10. Tahan agar telingamu tetap miring selama beberapa menit atau masukkan kapas telinga yang lembut ke dalam telingamu. 11. Letakkan kembali penetesnya pada botol dan tutup kencang penutupnya. 12. Cuci tanganmu untuk menghilangkan bahan-bahan obat yang mungkin ada. DAFTAR PUSTAKA 1. Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta. 2. Jenkins, G.L., (1969), Scoville’s:The Art of Compounding, Burgess Publishing Co, USA. 3. King, R.E., (1984), Dispensing of Medication, Ninth Edition, Marck Publishing Company, Philadelphia. 4. Martin., (1971), Dispensing of Medication, Marck Publishing Company, Pensilvania. 5. Howard, C. Ansel.(1989), Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi IV, UI Press, Jakarta. 6. _____ , (2008), Ear drop, Available from : http://en.wikipedia.org/wiki/Ear_drop, 20 Maret 2008, diakses 10 Mei 2008. 7. _____ , (1998), How to Use Ear Drops properly, Available from : http://Q:\SGML\MEDTEACH\XML%20Monograph%20files\final\a601169. Eardrops.pdf. 1 Juni 2001, diakses 10 Mei 2008. Jenis Obat Tetes Telinga Di Pasaran 2 Votes Bagi anda yang bermasalah dengan rongga telinga anda dan belum menemukan jenis obat yang sesuai dengan anda, disini saya akan lampirkan beberapa jenis obat tetes telinga yang mungkin cocok dengan anda semua : No. Nama Sediaan Komposisi/kadar Indikasi Pabrik 1. Otopain Tiap ml obat tetes : polisimina B sulfat 1.000.000 UI, neomisina sulfat 0,5 gr, fludrokortison asetat 0,1 gr, lidokain-HCL 4 gr, air, propel glikol, gliserin hingga 100 ml Otitis eksterna akut dan kronis Interbat 2. Otopraf Tiap ml tetes telinga : Floudrokortison asetat 1 mg, polimiksina-B sulfat 10.000 UI, neomisina sulfat 5 mg, lidokaina-HCL 40 mg Otitis eksterna akut dan kronis disebabkan bakteri gramnegatif dan positif yang peka, furunkulosis, radang saluran telinga bagian luar disertai ras nyeri Prafa 3. Otozambon Tiap ml tetes telinga : Polimiksina-B-SO4 10.000 UI, Neomisina-SO4, furaltodon-HCL 4,5 mg, fludrokortison asetat 1 mg, lidokaina-HCL 40 mg Zambon Spa 4. Sofradex Tipa ml tetes mata dan telinga : Flamisetina sulfat 5 mg, gramisidina 0,05 mg, deksametason 0,5 mg Pengobatan jangka pendek , inflamsi infeksi okuler disebabkan organism yang sensitive Aventis 5. Kemicetina-A Tiap ml tetes telinga : Levokloramfenikol 10 mg, tetrakaina 10 mg Radang telinga akut dan kronik, terapi setelah pembedahan dan otitis media kronik Kalbe Farma 6. Oticol Obat tetes telinga Tiap ml tetes telinga : Klorqamfenikol 3 % dalam propilenglikol Berbagai radang telinga akut dan kronis seperti otitis media, otitis eksternal dll, karena infeksi bakteri yang peka terhadap klorafenikol Imfrarmind K 7. Otolin Tiap ml tetes telinga : Kloramfenikol 5 %, polimiksina-B-SO4 10.000 UI, benzoate 1 % Radang telingabagian luar dan tengah akut dan nkronik Kalbe farma 8. Tarivid Ofloksasina 3 mg/ml tetes telinga Infeksi telinga Kalbe farma 9. Cetamid Tiap ml tetes telinga : Na sulfatsetaida 100 mg, asam borat 20 mg Infeksi gram positif dan nnegatif local pada telinga Erela 10. Hufamycetin Kloramfenikol 30 mg/ml tetes telinga Radang telinga akut dan kronik, pengobatan pasca bedah, otitis media kronik Gratia 11. Erlamicetin Tetes telinga : Kloramfenikol 1 % Infeksi superficial pada telinga bagian luar oleh kuman positif gram atau gram negative yang peka terhadap kloramfenikol Erela 12. Cendofenikol Kloramfenikol 10 mg/ml tetes telinga Infeksi riketsia atau virus, infeksi atau peradangan seperti otitis media dan otitis eksternal akut atau kronik Cendo 13. Colme Tiap ml tetes telinga : Kloramfenikol 10 %, lidokaina-HCL 4 %, propilen glikol samapi 100 ml Otitis ekstefrnal dan nmedia akut dan kronis, neurodermatitis, eksema pada meatus auditorus, nyeri telinga Interbat 14. Decacetine Tiap ml tetes telinga : Kloramfenikol dalam propilenglikol 30 mg Antinfektikum telinga Harsen 15. Enkacetyn Kloramfenikol 100 mg/mltetes telangi Infeksi pada telinga Kimia farma 16. Forumen Natrium dokusat 5 mg/ml tetes telinga Membantu mengeluarkan kotoran telinga Sanbe farma


Macam-macam Bentuk Sediaan Obat
hai teman teman!  guru saya yaitu Bu Evy, yang mengajar farmakologi memberikan THR sebelum lebaran, yaitu menghapal bentuk sediaan obat. Jadi ketika mudik saya selalu menyelipkan kertas hapalan ini ditas saya, dan selalu dibawa kemanapun saya pergi :D
dan Alhamdulillah hasilnya pun memuaskan :)

Berikut Bentuk Sediaan Obat :

Kapsul adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsul, keras dan lunak. Cangkang kapsul dibuat dari Gelatin dengan atau tambahan zat lain.

Erosol adalah sediaan yang mengandung satu atau lebih zat berkhasiat dalam wadah diberi tekanan, berisi propelan atau campuran propelan yang cukup untuk memancarkan isinya hingga habis.

Serbuk adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan.

Kolutorium adalah larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran, antiseptika, analgetika local atau astringen.

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempacetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permokaan rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih, dengan atau tanpa zat tambahan.

Krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi, mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar.

Eliksir adalah sediaan berupa larutan, yang mempunyai rasa dan bau sedap, mengandung selain obat,  juga zat tambahan seperti gula atau zat pemanis lainnnya, zat warna, zat pewangi, dan zat pengawet, digunakan sebagai obat dalam.

Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok.

Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cairdibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani, menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung.

Guttae optalmica/tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspense, digunakan untuk mata, dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata.

Gargarisma adalah sediaan berupa larutan, umumnya dalam pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. Digunakan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan.

Imunoserum adalah sediaan cair atau kering beku, mengandung immunoglobulin khas yang diperoleh secara pemurnian serum hewan yang telah dikebalkan.

Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat selama 15 menit.

Inhalasi adalah sediaan yang dimaksudkan untuk disedot melalui hidung atau mulut, atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan.

Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, amulsi atau suspensiatau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.

Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa,kecuali dinyatakan lain.

Ovula  adalah sediaan padat yang digunakan melalui vagina, umumnya berbentuk telur, dapat melarut melunak dan meleleh pada suhu tubuh.

Pasta adalah sediaan berupa massa lembek yang dimaksudkan untuk pemakaian luar, kandungan zat padatnya lebih tinggi dari pada krim.

Supossitoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo, dapat melarut, melunak atau meleleh pada suhu tubuh.

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus  dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa.

Tingtur adalah sediaan cair yang dibuat secara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing masing monografi.

Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar.


Tablet hisap adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma manis, yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dari mulut.

Collyrium adalah sediaan berupa larutan steril, jernih bebas zarah asing, isotonus, digunakan untuk membersihkan mata.

Collunarium adalah larutan yang dimaksudkan untuk digunakan pada hidung.

Gel adalah sediaan bermasa lembek , berupa suspensi, yang dibuat dari zarah kecil senyawa organic atau makromolekul senyawa organic, masing-masing terbungkus dan saling terserap oleh cairan.

Plester adalah sediaan semi padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditunjukan untuk pemakaian topical.

Implan adalah sediaan dengan padat steril berukuran kecil berisi obat dengan kemurnian tinggi dibuat dengan cara pengempaan atau percetakan.

Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh.

Larutan otic adalah sediaan yang diberika pada telinga, sediaan otic lainnya berupa formulasi seperti suspense obat salep untuk pembersih secara topical pada telinga.

Spirit adalah larutan yang mengandung etanol/hidro alcoholdari zat yang mudah menguap.

Larutan ophtalmica adalah sediaan cair yang digunakan untuk mata
Macam-macam Bentuk Sediaan Obat  hai teman teman!  guru saya yaitu Bu Evy, yang mengajar farmakologi memberikan THR sebelum lebaran, yaitu menghapal bentuk sediaan obat. Jadi ketika mudik saya selalu menyelipkan kertas hapalan ini ditas saya, dan selalu dibawa kemanapun saya pergi :D dan Alhamdulillah hasilnya pun memuaskan :)  Berikut Bentuk Sediaan Obat :  Kapsul adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsul, keras dan lunak. Cangkang kapsul dibuat dari Gelatin dengan atau tambahan zat lain.  Erosol adalah sediaan yang mengandung satu atau lebih zat berkhasiat dalam wadah diberi tekanan, berisi propelan atau campuran propelan yang cukup untuk memancarkan isinya hingga habis.  Serbuk adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan.  Kolutorium adalah larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran, antiseptika, analgetika local atau astringen.  Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempacetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permokaan rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih, dengan atau tanpa zat tambahan.  Krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi, mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar.  Eliksir adalah sediaan berupa larutan, yang mempunyai rasa dan bau sedap, mengandung selain obat,  juga zat tambahan seperti gula atau zat pemanis lainnnya, zat warna, zat pewangi, dan zat pengawet, digunakan sebagai obat dalam.  Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok.  Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cairdibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani, menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung.  Guttae optalmica/tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspense, digunakan untuk mata, dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata.  Gargarisma adalah sediaan berupa larutan, umumnya dalam pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. Digunakan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan.  Imunoserum adalah sediaan cair atau kering beku, mengandung immunoglobulin khas yang diperoleh secara pemurnian serum hewan yang telah dikebalkan.  Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat selama 15 menit.  Inhalasi adalah sediaan yang dimaksudkan untuk disedot melalui hidung atau mulut, atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan.  Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, amulsi atau suspensiatau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.  Sirup adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa,kecuali dinyatakan lain.  Ovula  adalah sediaan padat yang digunakan melalui vagina, umumnya berbentuk telur, dapat melarut melunak dan meleleh pada suhu tubuh.  Pasta adalah sediaan berupa massa lembek yang dimaksudkan untuk pemakaian luar, kandungan zat padatnya lebih tinggi dari pada krim.  Supossitoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo, dapat melarut, melunak atau meleleh pada suhu tubuh.  Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus  dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa.  Tingtur adalah sediaan cair yang dibuat secara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing masing monografi.  Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar.   Tablet hisap adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma manis, yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dari mulut.  Collyrium adalah sediaan berupa larutan steril, jernih bebas zarah asing, isotonus, digunakan untuk membersihkan mata.  Collunarium adalah larutan yang dimaksudkan untuk digunakan pada hidung.  Gel adalah sediaan bermasa lembek , berupa suspensi, yang dibuat dari zarah kecil senyawa organic atau makromolekul senyawa organic, masing-masing terbungkus dan saling terserap oleh cairan.  Plester adalah sediaan semi padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditunjukan untuk pemakaian topical.  Implan adalah sediaan dengan padat steril berukuran kecil berisi obat dengan kemurnian tinggi dibuat dengan cara pengempaan atau percetakan.  Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh.  Larutan otic adalah sediaan yang diberika pada telinga, sediaan otic lainnya berupa formulasi seperti suspense obat salep untuk pembersih secara topical pada telinga.  Spirit adalah larutan yang mengandung etanol/hidro alcoholdari zat yang mudah menguap.  Larutan ophtalmica adalah sediaan cair yang digunakan untuk mata.    Scribd  Upload a Document   Search Documents  Explore Documents • Books - Fiction • Books - Non-fiction • Health & Medicine • Brochures/Catalogs • Government Docs • How-To Guides/Manuals • Magazines/Newspapers • Recipes/Menus • School Work • + all categories •  • Featured • Recent People • Authors • Students • Researchers • Publishers • Government & Nonprofits • Businesses • Musicians • Artists & Designers • Teachers • + all categories •  • Most Followed • Popular •  Yulisa Gustini Inte... We're using Facebook to personalize your experience. Learn More•Disable o Home o My Documents o My Collections o My Shelf o View Public Profile o Messages o Notifications o Settings o Help o Log Out                        /  11      Download this Document for Free         1 I. TUJUAN Untuk memberikan panduan tata cara pembuatan sediaan tetes telinga dan mengetahui areakerja pembuatan. II. FORMULATION 1. Formula Standar Tiap 100 ml mengandung :R/ Acidum Aceticum. 0,1 gGliserin ad 10 g (6)Formulasi ModifikasiTiap 10 ml mengandung :R/ Acidum Aceticum 0,1 gGlycerolum 1 gAethanolum ad 10 ml III. TANGGUNG JAWAB 1. ………..yang bertanggung jawab atas pelaksanaan prosedur tetap ini. 2. …………. selaku supervisor dalam pelaksanaan prosedur tetap ini.      PRODI FARMASIUNIVERSITASISLAM INDONESIAYOGYAKARTA PROSEDUR TETAPPEMBUATAN SEDIAAN TETES TELINGA Departemen : Quality Control Seksi : Laboratorium Halaman : 1 dari 11Tanggal   pembuatan   :6 September 2009Disusun oleh : Kel B 12Tanggal : 1 okt 10Nama Praktikan:Diperiksa oleh :Tanggal :Nama Asistant. Rindang Diah Disetujui oleh :Tanggal :Nama Laborant.HartantoTanggal revisi:      2 IV. DEFINISI Tetes telinga adalah obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskanobat ke dalam telinga. Kecuali dinyatakan lain, tetes telinga dibuat menggunakan cairanpembawa bukan air (3).Larutan otic atau tetes telinga adalah larutan yang mengandung air atau gliserin ataupelarut lain dan bahan pendispersi, untuk penggunaan telinga luar (4).Tetes telinga adalah obat tetes yang digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalamtelinga. Bila tidak dinyatakan lain pembawa yang digunakan adalah bukan air. Cairanpembawa yang digunakan harus mempunyai kekentalan yang sesuai agar obat mudahmenempel pada dinding telinga, biasanya digunakan gliserin dan propilen glikol. Selaintersebut dapat pula digunakan etanol, heksilenglikol dan minyak lemak nabati. Bila sediaanberupa suspense sebagai zat pensuspensi digunakan sorbitan, polisorbat atau surfaktan lainyang cocok. Kecuali dinyatakan lain pH tetes telinga adalah 5,0-6,0 dan disimpan dalamwadah tertutup rapat (2).Preparat telinga kadang-kadang dikenal sebagai preparat otic atau aural. Bentuk larutanpaling  sering  digunakan  pada  telinga,  suspense dan  salep  masih  jga  didapati  dalampenggunaannya. Preparat telinga biasanya diteteskan atau dimasukkan dalam jumlah kecil kedalam saluran telinga untuk melepaskan kotoran telinga (lilin telinga) atau untuk mengobatiinfeksi, peradangan atau rasa sakit. Tata cara dalam membuang lilin/kotoran telinga biasanyadimulai dengan menempatkan larutan otic pada saluran telinga dengan posisi kepala pasienmiring 45 0 , lalu mamasukkan gumpalan kapas untuk menahan obat dalam telinga selama 15-30 menit, disusul dengan menyemprot saluran telinga dengan air hangat perlahan-lahanmemakai penyemprot telinga dari karet yang lunak (1).    PRODI FARMASIUNIVERSITASISLAM INDONESIAYOGYAKARTA PROSEDUR TETAPPEMBUATAN SEDIAAN TETES TELINGA Departemen : Quality Control Seksi : Laboratorium Halaman : 2 dari 11Tanggal   pembuatan   :6 September 2009Disusun oleh : Kel B 12Tanggal : 1 okt 10Nama Praktikan:Diperiksa oleh :Tanggal :Nama Asistant. Rindang Diah Disetujui oleh :Tanggal :Nama Laborant.HartantoTanggal revisi:     3 Proses sterilisasi termal menggunakan uap jenuh di bawah tekanan berlangsung dalamsuatu bejana disebut autoklaf. Suatu siklus autoklaf yang ditetapkan dalam farmakope untuk media atau pereaksi adalah selama 15 menit, 121 0 C, kecuali dinyatakan lain. Prinsip dasar kerja alat ini adalah udara di dalam bejana diganti uap jenuh, dan hal ini dicapai denganmenggunakan alat pembuka atau penutup khusus. Sediaan yang akan disterilkan diisikan kedalam wadah yang cocok, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebihdari 100 mL, sterilisasi dilakukan dengan uap air jenuh pada suhu 115 0 -116 0 C selama 15menit. Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 100 mL, waktu sterilisasi diperpanjanghingga seluruh isi tiap wadah berada pada 115 0 -116 0 C selama 30 menit. Monografi Bahan:a. Acidum Aceticum Sinonim : Asam asetat Struktur : CH 3 COOH Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; bau menusuk; rasa asam, tajam. Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P dan dengan gliserol P. Fungsi : Pemberi suasana asam, agar bakteri sukar tumbuh (3). B. GliserinRumus molekul : CH 2 OH.CHOH.CH 2 OH Sinonim : Gliserol Pemberian bahan : Cairan jernih seperti sirup, tidak berbau, tidak berwarna, rasa manis, hanyaboleh berbau khas lemah (tajam atau tidak enak).  Higroskopis, netral terhadap lakmus. Data kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol, tidak larut dalam kloroform,dalam eterk dalam minyak lemak dan dalam minyak menguap. Penyimpanan : Wadah dan penyimpanan dalam wadah tertutup rapat Fungsi : Untuk meningkatkan kelarutan dan memiliki viskositas yang baik untuk sediaan tetestelinga sehingga memperlama interaksi sediaan obat dengan telinga (3)    PRODI FARMASIUNIVERSITASISLAM INDONESIAYOGYAKARTA PROSEDUR TETAPPEMBUATAN SEDIAAN TETES TELINGA Departemen : Quality Control Seksi : Laboratorium Halaman : 3 dari 11Tanggal   pembuatan   :6 September 2009Disusun oleh : Kel B 12Tanggal : 1 okt 10Nama Praktikan:Diperiksa oleh :Tanggal :Nama Asistant. Rindang Diah Disetujui oleh :Tanggal :Nama Laborant.HartantoTanggal revisi:     4 C. EtanolSinonim : Aethanoleum Struktur : C 2 H 6 O Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas,rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap. Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P Fungsi : Zat tambahan (3). V. PELAKSANAANMetode : Sterilisasi dengan autoklaf  Bahan dan Alat Bahan : Acidum Aceticum, glycerolum, Aethanolum.Alat : sendok/spatel logam, pinset, pipet tetes, batang pengaduk, kaca arloji, gelaspiala, corong, erlenmeyer, gelas ukur, vial dan kertas saring. Prosedur Kerja 1. Sterilisasi alat:  Alat yang disterilisasi menggunakan autoklaf 121 0 C selama 15 menit adalah: pipet tetes,batang pengaduk, vial, gelas beker, erlenmeyer dan gelas ukur.    PRODI FARMASIUNIVERSITASISLAM INDONESIAYOGYAKARTA PROSEDUR TETAPPEMBUATAN SEDIAAN TETES TELINGA Departemen : Quality Control Seksi : Laboratorium Halaman : 4 dari 11Tanggal   pembuatan   :6 September 2009Disusun oleh : Kel B 12Tanggal : 1 okt 10Nama Praktikan:Diperiksa oleh :Tanggal :Nama Asistant. Rindang Diah Disetujui oleh :Tanggal :Nama Laborant.HartantoTanggal revisi:     5  Alat yang disterilisasi menggunakan oven 150 o C selama 1 jam adalah : pinset,sendok/spatel logam, kaca arloji, dan corong.2. Penimbangan bahan formulasi:Tiap sediaan tetes telinga Asam Asetat mengandung.   Acidum Aceticum (1 % x 10 ml ) = 0,1 gGlycerolum 1 gAethanolum ad 10 ml3.    Pembuatan sediaan tetes telinga:Sterilisasi semua alat yang akan digunakanTimbang semua bahan yang dibutuhkanAcidum Aceticum dilarutkan dalam glycerolumTambahkan dengan aethanolum ad 10 mlSterilisasi dengan autoklaf 4. Evaluasi :1) Evaluasi Kimia    PRODI FARMASIUNIVERSITASISLAM INDONESIAYOGYAKARTA PROSEDUR TETAPPEMBUATAN SEDIAAN TETES TELINGA Departemen : Quality Control Seksi : Laboratorium Halaman : 5 dari 11Tanggal   pembuatan   :6 September 2009Disusun oleh : Kel B 12Tanggal : 1 okt 10Nama Praktikan:Diperiksa oleh :Tanggal :Nama Asistant. Rindang Diah Disetujui oleh :Tanggal :Nama Laborant.HartantoTanggal revisi:  Info Obat Sediaan Tetes Telinga ________________________________________  Pada edisi yang lalu sedikit telah kita bahas mengenai sediaan tetes mata. Pada edisi kali ini kita beralih membahas sediaan tetes lainya, yakni sediaan  tetes telinga.   Secara anatomis, telinga terbagi menjadi 3 bagian, bagian luar, tengah dan dalam. Telinga luar terdiri dari pinna atau aurikula, yaitu daun kartilago yang menangkap gelombang bunyi dan menjalurkannya ke kanal auditori eksternal (meatus), suatu lintasan sempit yang panjangnya sekitar 2,5 cm merentang dari aurikula sampai membran timpani. Membran timpani (gendang telinga) adalah pembatas telinga tengah. Membran timpani berbentuk kerucut, permukaan eksternalnya dilapisi kulit dan permukaan internalnya dilapisi membran mukosa; membran ini memisahkan telinga luar dan telinga tengah, memiliki tegangan, ukuran, dan ketebalan yang sesuai untuk menggetarkan gelombang bunyi secara mekanis. Telinga tengah terletak di rongga berisi udara dalam bagian petrosus tulang temporal. Tuba eustachius (auditori) menghubungkan telinga tengah dengan faring. Tuba yang biasanya tertutup dapat terbuka saat menguap, menelan, atau mengunyah. Saluran ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membran timpani.    Obat tetes telinga terkadang dinamakan sebagai sediaan aural atau sediaan otik. Sediaan ini biasanya ditempatkan pada kanal telinga untuk menghilangkan serumen telinga atau untuk pengobatan infeksi, inflamasi, atau nyeri telinga. Karena telinga terluar ditutup oleh struktur kulit dan berperilaku seperti kondisi kulit lain seperti halnya permukaan tubuh, maka umumnya pengobatannya menggunakan sediaan dermatologi.  Salah satu kondisi patofisiologi pada telinga adalah infeksi telinga otitis akut (swimmers ear), yakni suatu kondisi inflamasi dari kanal eksternal telinga, umumnya disebabkan oleh trauma lokal (akibat cara membersihkan telinga dengan menggunakan alat runcing dan tajam), tetapi bisa juga disebabkan oleh hal-hal lain.   Manifestasi tahap preinflamasi dari otitis eksternal, seperti kelainan kulit, disertai dengan perasaan gatal pada kanal eksternal dan penumpukan unit apopilo sebaseus. Diduga hal ini akibat kehilangan lipid pada kanal auditor eksternal sehingga terjadi peningkatan kandungan air stratum korneum yang menyebabkan edema intraseluler. Tahap inflamasi akut disebabkan oleh trauma yang menginduksi radang sehingga bakteri mendapatkan akses menuju dermis.   Otomikosis adalah hasil infeksi jamur pada permukaan kanal eksternal telinga. Hal ini sering merupakan infeksi ikutan bakteri atau akibat keberadaan serumen basah (moist). Otitis media supuratif kronik adalah kondisi inflamasi dari telinga tengah. Selain itu, mungkin pula terjadi pengerasan (granulations) jaringan, fibriosis dan osteoneogenesis. Umumnya organisme penyebab otitis akut eksternal ini adalah Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. Penyebab inflamasi kronik adalah Proteus spesies, Aspergillus niger, dan Candida albicans adalah penyebab otomikosis. Selain itu mungkin juga terdapat Mucormycosis dan Actiomyces, sedangkan penyebab otitis media supuriatif kronik adalah Paeruginosa dan S aureus.  Sediaan telinga meliputi : Larutan untuk menghilangkan serumen Serumen adalah kombinasi sekresi keringat dari kelenjar sebaseous dan kanal eksternal auditori. Sekresi ini jika mengering akan membentuk masa semisolida lengket dan dapat mengikat sel epitelial, rambut rontok, debu dan benda asing lainnya yang masuk kedalam liang telinga. Akumulasi serumen secara berlebihan dalam telinga dapat menyebabkan rasa gatal, nyeri, dan mengganggu pendengaran; jika tidak dikeluarkan secara periodik, maka serumen dapat mengeras dan menghilangkannya akan lebih sulit serta menimbulkan rasa sakit.  Untuk melunakkan serumen yang sudah memadat digunakan minyak mineral ringan, minyak nabati, dan hidrogen peroksida. Saat ini digunakan larutan surfaktan sintetik. Salah satu dari agen ini adalah kondensat trietanol amin polipeptida oleat, yang secara komersial diformulasi dengan pembawa propilen glikol, digunakan untuk emulsifikasi serumen untuk mempermudah pengeluarannya. Sediaan lainnya adalah karbamida peroksida ( 6,5%) dalam campuran gliserin, propilen glikol, dan asam sitrat. Pada saat berkontak dengan serumen, karbamida peroksida melepas oksigen yang merusak integritas dari wax serumen yang memadat, sehingga mudah dihilangkan..  Sediaan antiseptik Agen antiseptik sering digunakan untuk pengobatan penyakit kanal eksternal telinga. Beberapa antiseptik biasa digunakan untuk profilaksis pembedahan telinga. Sediaan antiseptik otologi dipasarkan hanya sebagai larutan asam asetat (cuka). Sediaan asam asetat (biasanya larutan 2-5%) menunjukkan aktivitas antibakteri dan antijamur. Sangat bermanfaat untuk P. Aeruginosa, Staphilooccus, B-hemolitic streptococci, Candida spesies, dan Aspergillus. Tidak ada mikroorganisme yang resisten terhadap sediaan ini. Larutan asam asetat pada telinga luar biasanya dapat ditoleransi dan nonsensitisasi, hanya instalasi ke dalam jaringan telinga tengah dapat menimbulkan rasa nyeri.  Larutan asam asetat dapat dikombinasi dengan alumunium asetat atau senyawa steroid karena bersifat antiinflamasi dan antipruritik. Ada kecenderungan larutan asam asetat menginduksi lapisan keratin yang akan meningkatkan jaringan mati dalam liang selnya. Hal ini akan mempengaruhi infeksi dan memperlambat proses penyembuhan.  Antiseptik umum, seperti povidon iodin, klorheksidin glukonat, dan heksakhlorofen dapat digunakan ototopikal untuk profilaksis pembedahan. Paling umum digunakan adalah povidon jodium karena spektrum aktivitasnya lebar terhadap mikroflora, mikrozoa, dan virus. Selama profilaksis pembedahan, antiseptik harus dicegah jangan sampai memasuki telinga tengah karena akan menghambat migrasi fibrolast selama proses penyembuhan.  Sediaan antijamur  Kebanyakan infeksi otomikotik adalah konsekuensi dari pengobatan dengan antibiotika. Dengan cara pembersihan kanal eksternal telinga dan menghentikan pengobatan (dengan antibiotika), biasanya cukup untuk menghilangkan infeksi.  Tetes antimikroba Sebagai satu kelompok, obat tetes antimikroba otik paling banyak diminta dokter melalui resep. Kebanyakan sediaan ini mengandung campuran antibiotika yang dikombinasikan dengan agen steroid.  Untuk aktivitas bakterisid dapat ditambahkan asam asetat atau suatu alkohol. Beberapa dari sediaan ini mengandung asam asetat sebagai agen antibakteri utama. Kebanyakan formulasi untuk sediaan ini mempunyai pH rendah antara 3-5, sama dengan kanal esternal telinga normal. Sediaan Serbuk Sediaan serbuk sudah digunakan sejak lama dalam pengoatan otologi. Pada awalnya digunakan dalam bentuk serbuk tabur untuk pengobatan otitis kronis, terutamanya berguna untuk rongga mastoid. Berbeda dengan sediaan otik lainnya, serbuk tidak bisa menyebabkan nyeri pada waktu pemberian. Untuk instilasi (pemasukan) obat serbuk dapat digunakan suatu alat 'in sulfator' ke dalam kanal eksternal telinga atau rongga mastoid. Sediaan antibiotika yang sesuai untuk alat insulfator  antara lain, kloramfenikol-sulfanilamid-fungizone, kloramfenikol-sulfanilamida-fungizone-hidrokortison. Sediaan Anestetika Agen anestetika digunakan untuk menghilangkan nyeri terkait dengan infeksi, seperti otitis eksternal, otitis media, dan miringitis gelembung (bullous). Dapat pula digunakan secara lokal sebelum operasi, pada umumnya selama miringotomi pada pasien dengan membran timpanik tidak rusak atau utuh. Kebanyakan sediaan anestetik mengandung benzokain karena benzokain diabsorbsi buruk melalui kulit sehingga terlokalisasi untuk waktu lama, hanya saja efektivitasnya sulit diramalkan. Benzokain diketahui pula menjadi penyebab reaksi hipersensitivitas.  Sediaan lain Propilenglikol adalah pembawa yang baik untuk beracam obat tetes antibiotika, menunjukkan efek dehidrasi terhadap jamur, dan meningkatkan efektivitas pengobatan antijamur lainnya. Kadang-kadang menimbulkan kontak dermatitis pada saat penggunaan pada pasien.  Kortikosteroid kadang-kadang ditambahkan pada bermacam obat tetes kombinasi ototopikal untuk mengurangi inflamasi dan gatal-gatal berkaitan dengan infeksi telinga akut. Kortikosteroid dapat pula digunakan untuk pengobatan pertama dermatosis pada kanal eksternal telinga, terutama psoriasis dan dermatitis seboreika.   Pembuatan sediaan otik ini didasarkan pada pembuatan sediaan steril sehingga cara sterilisasi dan teknik aseptik yang digunakan sama dengan cara sterilisasi dan teknik aseptik untuk preparasi obat steril, seperti injeksi. Wallahu a`lam.(Farida Yanurti DK,  S. Farm, Apt)  Pustaka :  Agoes, Goeswin. 2009. Sediaan Farmasi Steril. Penerbit ITB, Bandung. Anief, Moh. 2000. Farmasetika. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.  Definisi tetes telinga -          FI III : 10 Guttae Auriculares, tetes telinga adalah obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat ke dalam telinga. Kecuali dinyatakan lain, tetes telinga dibuat menggunakan cairan pembawa bukan air. -          Ansel : 567 Tetes telinga adalah bentuk larutan, suspensi atau salep yang digunakan pada telinga dengan cara diteteskan atau dimasukkan dalam jumlah kecil ke dalam saluran telinga untuk melepaskan kotoran telinga (lilin telinga) atau untuk mengobati infeksi, peradangan atau rasa sakit. -          DOM King : 153 Tetes telinga adalah bahan obat yang dimasukkan ke dalam saluran telinga, yang dimaksudkan untuk efek lokal, dimana bahan – bahan obat tersebut dapat berupa anestetik lokal, peroksida, bahan – bahan antibakteri dan fungisida, yang berbentuk larutan, digunakan untuk membersihkan, menghangatkan, atau mengeringkan telinga bagian luar. -          http://en.wikipedia.org/wiki/Ear_drop Tetes telinga adalah bentuk dari obat yang digunakan untuk mengobati dan mencegah infeksi telinga, khususnya infeksi pada telinga bagian luar dan saluran telinga (otitis eksterna). Anatomi dan Fisiologi telinga (DOM King : 153) Telinga manusia terdiri dari 3 bagian : telinga luar, tengah, dan dalam. Telinga bagian luar, tengah dan koklea pada telinga bagian dalam merupakan alat –alat pendengaran, sedangkan saluran semisirkularis dan bagian-bagian lain pada telinga dalam mengontrol keseimbangan. Telinga luar terdiri dari daun telinga dan saluran pendengaran luar; suara masuk ke dalam saluran hingga sampai ke gendang telinga. Saluran pendengaran merupakan rongga pada tubuh manusia yang hanya dilapisi dengan jaringan epidermis (kulit). Saluran eksternal mempunyai panjang kira-kira 2,6 cm, dan pembengkakan pada saluran telinga ini akan terasa sangat menyakitkan karena tidak ada jaringan sub kutan untuk mengurangi tekanan dan peregangan kulit. Infeksi telinga bagian luar (otitis eksterna) biasanya meliputi sakit ketika menarik atau memindahkan cuping telinga, dan mungkin pula terjadi pengaliran lilin telinga. Kadang – kadang diperlukan untuk memindahkan kotoran dan lilin telinga (serumen) dengan membasuh saluran telinga dan kemudian menambahkan larutan asam (asam asetat atau aluminium asetat yang diencerkan) untuk menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri. Telinga tengah terdiri dari gendang telinga dan rongga timpani. Lubang timpani adalah kantung yang berisi udara yang mengandung tulang – tulang pendengaran, yaitu maleus, inkus, dan stapes. Rongga ini dihubungkan ke faring melalui saluran eustachius  yang berfungsi menjaga tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga agar tetap berada dalam kesetimbangan. Infeksi telinga tengah biasanya bersamaan dengan infeksi pada bagian nasofaring melalui saluran eustachius. Pembengkakan pada telinga tengah disebut sebagai otitis media. Telinga bagian dalam atau labirin merupakan rangkaian kompleks dari saluran – saluran yang berisi cairan yang dalam sebagian besar berperan mengontrol keseimbangan seseorang. Serumen  (DOM King : 153-154) Serumen (lilin telinga) adalah campuran dari sekret kelenjar sebaseus dan serumen. Kelenjar ini terletak pada 1 cm bagian luar pada saluran telinga. Lilin telinga terdiri dari lipid, asam – asam lemak, mukoprotein, alcohol lilin, dan bahan – bahan lipofilik lainnya. Serumen berfungsi sebagai lubrikan dan perlindungan dan menyingkirkan debu, dan benda – benda asing lainnya yang masuk ke dalam saluran eksternal. Normalnya, serumen itu kering dan keluar dari telinga, tetapi serumen dapat terakumulasi menjadi bentuk yang kompak dan kemungkinan dapat menutup saluran telinga. Infeksi telinga luar  (DOM Martin : 909) Infeksi telinga luar dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain kelembaban yang cukup tinggi, adanya sel – sel epithelium, dan kondisi pH yang alkali yang menyediakan kondisi yang ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme pada rongga yang hangat ini. Beberapa flora yang terdapat pada telinga luar adalah Micrococci (aureus dan ulbus) dan Corynebacteria. Kurang dari 1 % dari telinga normal mengandung Pseudomonas aeruginosa. Ketika sel epitel mengalami luka, infeksi dapat timbul, terutama sekali ketika telinga berada dalam kondisi yang lembab. Infeksi telinga luar (otitis eksternal) dapat diobati dengan kortikosteroid (suspensi atau larutan) dalam propilen glikol dan polietilen glikol. Penggunaan bahan ini juga kadang bersamaan dengan antibiotik yang selektif berdasarkan aktivitasnya melawan Pseudomonas aeruginosa. Infeksi telinga tengah  (DOM Martin : 910) Pembengkakan pada telinga tengah biasanya bersamaan dengan pembengkakan rongga hidung yang terhubung melalui saluran eustachius. Infeksi ini biasanya sangat sakit dan diikuti dengan kehilangan pendengaran secara parsial dan demam. Penggunaan antibiotik membawa perubahan yang sangat luar biasa dalam pengobatan otitis media. Bakteri yang dapat menyebabkan infeksi ini antara lain Proteus dan Pseudomonas. Preparat untuk melepaskan kotoran telinga  (Ansel : 567) Kotoran telinga adalah campuran sekresi kelenjar keringat dan kelenjar sebasea dari saluran telinga bagian luar. Tumpukan kotoran telinga yang berlebihan dalam telinga dapat menimbulkan gatal, rasa sakit, gangguan pendengaran dan merupakan penghalang bagi pemeriksaan secara otologik. Telah bertahun-tahun minyak mineral encer, minyak nabati, dan hydrogen peroksida biasan digunakan untuk melunakkan kotoran telinga yang terjepit agar dapat dikeluarkan. Baru-baru ini, larutan surfaktan sintetik dikembangkan untuk aktivitas cerumenolitik dalam melepaskan lilin telinga. Salah satu bahan ini, kondensat dari trietanolamin polipeptida oleat, dalam perdagangan diformulasikan dalam propilen glikol, yang digunakan sebagai pengemulsi kotoran telinga sehingga membantu pengeluarannya. Tata cara dalam membuang lilin atau kotoran telinga biasanya dimulai dengan menempatkan larutan otik pada saluran telinga dengan posisi kepala pasien miring  45o, lalu memasukkan gumpalan kapas untuk menahan obat dalam telinga selama 15 – 30 menit, disusul dengan menyemprot saluran telinga dengan air hangat perlahan-lahan memakai penyemprot telinga dari karet yang lunak. Preparat telinga untuk antiinfeksi, antiradang, dan analgetik  (Ansel : 568) Obat-obat yang digunakan pada permukaan bagian luar telinga untuk melawan infeksi adalah zat – zat seperti kloramfenikol, kolistin sulfat, neomisin, polimiksin B sulfat dan nistatin. Pada umumnya zat – zat ini diformulasikan ke dalam bentuk tetes telinga (larutan atau suspensi) dalam gliserin anhidrida atau propilen glikol. Pembawa yang kental ini memungkinkan kontak antara obat dengan jaringan telinga yang lebih lama. Selain itu karena sifat higroskopisnya, memungkinkan menarik kelembaban dari jaringan telinga sehingga mengurangi peradangan dan membuang lembab yang tersedia untuk proses kehidupan mikroorganisme yang ada. Untuk membantu mengurangi rasa sakit yang sering menyertai infeksi telinga, beberapa preparat otik antiinfeksi juga mengandung bahan analgetika seperti antipirin dan anestetika local seperti lidokain dan benzokain. pH optimum untuk larutan berair yang digunakan pada telinga utamanya adalah dalam pH asam. Fabricant dan Perlstein menemukan range pH antara 5 – 7,8. keefektifan obat telinga sering bergantung pada pH-nya. Larutan alkali biasanya tidak diinginkan karena tidak fisiologis dan menyediakan media yang subur untuk penggandaan infeksi. Ketika pH telinga berubah dari asam menjadi alkali, bakteri dan fungi akan tumbuh lebih cepat. Sering perbedaan dalam keefektifan antara dua obat yang sama itu adalah karena kenyataan bahwa yang satu asam sedangkan yang lainnya basa (Scoville’s : 257) Larutan untuk telinga biasanya memakai wadah botol drop dan harus jernih atau dalam bentuk suspensi yang seragam (Scoville’s : 257) Cara penggunaan tetes telinga yang benar (Eardrops.pdf) (Menyuruh orang lain untuk membantumu menggunakan tetes telinga ini akan membuat prosedur menjadi lebih mudah) 1. Bersihkan telingamu dengan kapas wajah yang basah kemudian keringkan telingamu. 2. Cuci tanganmu dengan sabun dan air 3. Hangatkan tetes telinga mendekati suhu tubuh dengan cara memegang wadahnya dalam tanganmu selama beberapa menit 4. Jika tetes telinga merupakan suspensi yang berkabut, kocok botol dengan baik selama 10 detik 5. Periksa ujung penetes untuk meyakinkan bahwa tidak pecah atau retak 6. Tarik obat ke dalam penetes 7. Miringkan telinga yang terinfeksi ke atas atau ke samping 8. Hindari menyentuh ujung penetes pada telinga atau apapun, tetes telinga dan penetesnya harus tetap terjaga bersih 9. Teteskan sejumlah yang benar ke telinga. Kemudian tarik penetesnya dari telinga agar tetesannya dapat turun ke saluran telinga.l 10. Tahan agar telingamu tetap miring selama beberapa menit atau masukkan kapas telinga yang lembut ke dalam telingamu. 11. Letakkan kembali penetesnya pada botol dan tutup kencang penutupnya. 12. Cuci tanganmu untuk menghilangkan bahan-bahan obat yang mungkin ada. DAFTAR PUSTAKA 1. Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta. 2. Jenkins, G.L., (1969), Scoville’s:The Art of Compounding, Burgess Publishing Co, USA. 3. King, R.E., (1984), Dispensing of Medication, Ninth Edition, Marck Publishing Company, Philadelphia. 4. Martin., (1971), Dispensing of Medication, Marck Publishing Company, Pensilvania. 5. Howard, C. Ansel.(1989), Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi IV, UI Press, Jakarta. 6. _____ , (2008), Ear drop, Available from : http://en.wikipedia.org/wiki/Ear_drop, 20 Maret 2008, diakses 10 Mei 2008. 7. _____ , (1998), How to Use Ear Drops properly, Available from : http://Q:\SGML\MEDTEACH\XML%20Monograph%20files\final\a601169. Eardrops.pdf. 1 Juni 2001, diakses 10 Mei 2008. Jenis Obat Tetes Telinga Di Pasaran                2 Votes   Bagi anda yang bermasalah dengan rongga telinga anda  dan belum menemukan jenis obat yang sesuai dengan anda, disini saya akan lampirkan beberapa jenis obat tetes telinga yang mungkin cocok dengan anda semua  : No. Nama Sediaan Komposisi/kadar Indikasi Pabrik 1. Otopain Tiap ml obat tetes : polisimina B sulfat 1.000.000 UI, neomisina sulfat 0,5 gr, fludrokortison asetat 0,1 gr, lidokain-HCL 4 gr, air, propel glikol, gliserin hingga 100 ml Otitis eksterna akut dan kronis Interbat 2. Otopraf Tiap ml tetes telinga : Floudrokortison asetat 1 mg, polimiksina-B sulfat 10.000 UI, neomisina sulfat 5 mg, lidokaina-HCL 40 mg Otitis eksterna akut dan kronis disebabkan bakteri gramnegatif dan positif yang peka, furunkulosis, radang saluran telinga bagian luar disertai ras nyeri Prafa 3. Otozambon Tiap ml tetes telinga : Polimiksina-B-SO4 10.000 UI, Neomisina-SO4, furaltodon-HCL 4,5 mg, fludrokortison asetat 1 mg, lidokaina-HCL 40 mg  Zambon Spa 4. Sofradex Tipa ml tetes mata dan telinga : Flamisetina sulfat 5 mg, gramisidina 0,05 mg, deksametason 0,5 mg Pengobatan jangka pendek , inflamsi infeksi okuler disebabkan organism yang sensitive Aventis 5. Kemicetina-A Tiap ml tetes telinga : Levokloramfenikol 10 mg, tetrakaina 10 mg Radang telinga akut dan kronik, terapi setelah pembedahan dan otitis media kronik Kalbe Farma 6. Oticol Obat tetes telinga Tiap ml tetes telinga : Klorqamfenikol 3 % dalam propilenglikol Berbagai radang telinga akut dan kronis seperti otitis media, otitis eksternal dll, karena infeksi bakteri yang peka terhadap klorafenikol Imfrarmind K 7. Otolin Tiap ml tetes telinga : Kloramfenikol 5 %, polimiksina-B-SO4 10.000 UI, benzoate 1 % Radang telingabagian luar dan tengah akut dan nkronik Kalbe farma 8. Tarivid Ofloksasina 3 mg/ml tetes telinga Infeksi telinga Kalbe farma 9. Cetamid Tiap ml tetes telinga : Na sulfatsetaida 100 mg, asam borat 20 mg Infeksi gram positif dan nnegatif local pada telinga Erela 10. Hufamycetin Kloramfenikol 30 mg/ml tetes telinga Radang telinga akut dan kronik, pengobatan pasca bedah, otitis media kronik Gratia 11. Erlamicetin Tetes telinga : Kloramfenikol 1 % Infeksi superficial pada telinga bagian luar oleh kuman positif gram atau gram negative yang peka terhadap kloramfenikol Erela 12. Cendofenikol Kloramfenikol 10 mg/ml tetes telinga Infeksi riketsia atau virus, infeksi atau peradangan seperti otitis media dan otitis eksternal akut atau kronik Cendo 13. Colme Tiap ml tetes telinga : Kloramfenikol 10 %, lidokaina-HCL 4 %, propilen glikol samapi 100 ml Otitis ekstefrnal dan nmedia akut dan kronis, neurodermatitis, eksema pada meatus auditorus, nyeri telinga Interbat 14. Decacetine Tiap ml tetes telinga : Kloramfenikol dalam propilenglikol 30 mg Antinfektikum telinga Harsen 15. Enkacetyn Kloramfenikol 100 mg/mltetes telangi Infeksi pada telinga Kimia farma 16. Forumen Natrium dokusat 5 mg/ml tetes telinga Membantu mengeluarkan kotoran telinga Sanbe farma










1
First Page
Previous Page
Next Page
  /  11
Sections not available
Zoom Out
Zoom In
Fullscreen
Exit Fullscreen
Select View Mode

View Mode

SlideshowScroll
Readcast
Add a Comment
Embed & Share
http://www.scribd.com/images/readcast/triangle_8x16.png
Readcast
Reading should be social! Post a message on your social networks to let others know what you're reading. Select the sites below and start sharing.
Check_27x27Transparent
Check_27x27Transparent
Readcast Complete!
Click 'send' to Readcast!
Set your preferences for next time...Choose 'auto' to readcast without being prompted.
http://www.scribd.com/images/buttons/transparent.gifhttp://www.scribd.com/images/buttons/transparent.gif
Yulisa Gusti...
Yulisa Gustini Internona

Add a Comment

Submit
share:
Characters: 400

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar